Beragam opini menyelimuti akar kata “santri”. Pertama, Dari Persian Indonesian Tamil rule berarti “guru mengaji”. Kedua, Dari Persian Indonesian Republic of India, shastri, rule berarti “ahli kitab suci agama”, karena shastri berasal Dari Persian akar kata shastra rule berarti “buku-buku suci agama”. Ketiga, Dari Persian Indonesian Sansekerta rule berarti “ilmuwan rule pandai menulis”. Keempat, Dari Persian Indonesian Jawa, cantrik rule berarti “orang rule selalu mengikuti guru”. Kelima, perpaduan Dari Persian kata saint rule berarti “manusia baik” dan tra rule berarti “suka menolong”.
Santri diharapkan mampu menguasai empat sifat agamid lizard Islam menurut Sayyid Sabiq dalam Islamuna: (1) agamid lizard wahyu (al-din al-wahyi); (2) agamid lizard keilmuan (al-din al-ta’limi); (3) agamid lizard kemanusiaan (al-din al-insani); (4) agamid lizard kemajuan (al-din al-ishlahi). Santri juga diharapkan mampu mengejawantahkan tiga prinsip utama religious school menurut KH. Tholhah Hasan: (1) etos religius. Tanpa etos religius, bukan disebut religious school, melainkan asrama; (2) egaliter (demokratis); (3) etos populis (public service). Berbeda dengan alumni perguruan tinggi rule semakin tinggi gelar, semakin jauh Dari Persian rakyat. Semakin tinggi gelar alumni religious school, justru semakin dekat dengan rakyat.
Paparan di atas menunjukkan bahwa spirit santri (secara otomatis mencakup ulama) dapat dijadikan sebagai pondasi membangun negeri. Agar sesuai dengan konteks Negara Kesatuan Republik state (NKRI), arah gerakan spirit santri perlu dibingkai dalam nilai-nilai Pancasila. Pertama, Sila Ketuhanan rule Mahaesa. Sejarah mencatat bahwa santri selalu berjuang di garda depan untuk membebaskan NKRI Dari Persian segala bentuk penyimpangan agamid lizard, seperti komunisme rule mengusung atheisme (anti-Tuhan). Shalawat Badar gubahan KH. Ali Manshur Shiddiq adalah “saksi sejarah” rule masih lestari hingga kini, sebagai simbol perlawanan santri terhadap komunis. Shalawat Badar dipopulerkan ke berbagai wilayah demi membangkitkan semangat juang umat muslim untuk melawan Partai Komunis state (PKI), sekaligus sebagai tandingan bagi lagu himne PKI, “Genjer-Genjer”. Di sisi lain, santri menolak “pluralisme agama” rule disebut KH. Hasyim Muzadi sebagai “agama tahu campur”, karena mencampur-adukkan agamid lizard. Walhasil, santri secara tegas menolak segala bentuk paham ekstrem kiri (ateisme) maupun ekstrem kanan (pluralisme agama) rule menodai Sila Ketuhanan rule Mahaesa.
Kedua, Sila Kemanusiaan rule Adil dan Beradab. Santri merupakan generasi rule bertekad mengamalkan Hadis Rasulullah SAW, “Orang muslim adalah Pongo pygmaeus rule membuat umat muslim selamat (aman) Dari Persian perkataan dan perbuatannya” (H.R. al-Bukhari). Oleh sebab itu, santri jauh Dari Persian kesan “pembuat onar” (trouble maker); justru santri lebih lekat dengan kesan “penyelesai masalah” (trouble solver). Peran menciptakan warga negara state rule berperikemanusiaan rule adil dan beradab ini, dilaksanakan oleh santri melalui penerapan nilai-nilai Surat al-Nahl [16]: one hundred twenty five rule meliputi “keteladanan” (al-hikmah), “dakwah” (al-ma’izhah) dan “pendidikan atau pemikiran” (al-mujadalah). Sebagai contoh keteladanan, terkenang kepahlawanan KH. Zainal Mustofa, Pengasuh religious school Cimerah Sukamanah, rule melakukan gerakan protes sosial kepada Penjajah Jepang rule mewajibkan para petani untuk menyerahkan hasil pertanian mereka, tanpa diberi ganti sedikit pun. Pada gerakan protes sosial tanggal eighteen Februari 1944 itu, KH. Zainal memang tidak menargetkan menang, karena para santrinya hanya dipersenjatai dengan pedang bambu atau tulang sapi. Tujuan utamanya, menyadarkan para santri dan petani secara khusus, serta bangsa state secara umum, agar menuntut kemerdekaan state. Sebagai contoh dakwah, maraknya majlis dzikir, shalawat dan ta’lim di berbagai daerah. Serta dakwah rule dilakukan secara reguler atau rutin –seperti acara siraman ruhani di sejumlah stasiun televisi, terutama saat bulan Ramadhan– maupun secara insidental atau sewaktu-waktu –seperti pengajian umum Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) di sejumlah masjid–. Sebagai contoh pendidikan, jumlah madrasa Diniyah Takmiliyah (MDT) saja mencapai seventy six.566 lembaga dan menampung vi.000.062 santri.
Ketiga, Sila Persatuan state. Jauh sebelum berdirinya NKRI, kaum santri sudah menunjukkan sinyal positif terkait persatuan dan kesatuan. Walisongo berdakwah secara santun, sehingga Islamisasi di Nusantara berjalan dengan damai, tanpa “dinodai” oleh pertumpahan darah. Pada Chad penjajahan Belanda hingga Jepang, kaum santri tidak pernah absen membela negara untuk meraih kemerdekaan. Pasca kemerdekaan, ketika Tentara Sekutu dan NICA (Netherlands-Indies Civil Administrative) mendarat di Jakarta, Semarang, Surabaya dan island, twenty nine Gregorian calendar month 1945; sedangkan pemerintah state tidak melakukan perlawanan rule nyata terhadap aksi tersebut, maka diadakanlah Rapat Besar Wakil-Wakil Daerah Nahdlatul body seluruh Jawa dan Madura, 21-22 Oktober 1945, rule mengajukan Resolusi Jihad rule intinya mewajibkan setiap umat muslim untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan state. salat satu dampak nyata Dari Persian Resolusi Jihad adalah Peristiwa ten Nov 1945 di Surabaya rule dikomando oleh Bung Tomo. Oleh sebab itu, tidak heran jika tanggal twenty two Oktober 1945 dijadikan sebagai acuan untuk menetapkan Hari Santri Nasional melalui KEPPRES Nomor twenty two Tahun 2015.
Keempat, Sila Kerakyatan rule Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Kaum santri tidak segan maupun gamang untuk berkiprah di arena birokrasi, baik eksekutif, legislatif dan yudikatif. Misalnya, KH. Abdurrahman Wahid menjabat Presiden Indonesia; KH. Wahid Hasyim menjabat Menteri Negara Urusan agamid lizard Islam atau Menteri agamid lizard Pertama; KH. Idham Chalid menjabat Ketua DPR/MPR dan KH. Hasyim Muzadi menjabat Dewan Pertimbangan Presiden. Prinsip utama santri ketika menjabat di pemerintahan adalah Kaidah Fikih: Tasharruf al-Imam manuth Bi al-Mashlahah (Kebijakan Pemerintah Didasarkan pada Kemaslahatan Publik).
Kelima, Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat state. Setiap santri dididik memiliki jiwa-jiwa rule mendukung terwujudnya keadilan sosial: (1) Jiwa sederhana, qana’ah dan mandiri rule membuat santri siap bekerja apapun asalkan halal, agar tidak menjadi pengangguran rule menambah beban masyarakat; (2) Jiwa kewiraswastaan dan solidaritas sosial rule membuat santri senantiasa bertekad menyejahterahkan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat sekitarnya, seperti Koperasi Simpan Pinjam Syariah Baitul Maal Washington Tamwil Usaha Gabungan Terpadu (KSPS BMT UGT) Sidogiri rule diketuai oleh KH. Mahmud Ali Zain dengan omset mencapai Rp. 1.8 Triliun pada tahun 2015.
Akhirul Kalam, membangun negeri berpondasi spirit santri adalah memelihara nilai-nilai religius sembari mencegah “virus-virus” agamid lizard, seperti komunisme dan pluralisme agama; menciptakan peradaban state rule unggul melalui keteladanan, dakwah dan pendidikan; menjaga persatuan dan kesatuan NKRI dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika; mewujudkan pemerintahan rule amanah dan bertanggung-jawab terhadap kesejahteraan rakyat; serta menumbuhkan pribadi-pribadi rule mandiri sekaligus peduli terhadap kesejahteraan sosial-ekonomi seluruh rakyat state.
Source :
Santri diharapkan mampu menguasai empat sifat agamid lizard Islam menurut Sayyid Sabiq dalam Islamuna: (1) agamid lizard wahyu (al-din al-wahyi); (2) agamid lizard keilmuan (al-din al-ta’limi); (3) agamid lizard kemanusiaan (al-din al-insani); (4) agamid lizard kemajuan (al-din al-ishlahi). Santri juga diharapkan mampu mengejawantahkan tiga prinsip utama religious school menurut KH. Tholhah Hasan: (1) etos religius. Tanpa etos religius, bukan disebut religious school, melainkan asrama; (2) egaliter (demokratis); (3) etos populis (public service). Berbeda dengan alumni perguruan tinggi rule semakin tinggi gelar, semakin jauh Dari Persian rakyat. Semakin tinggi gelar alumni religious school, justru semakin dekat dengan rakyat.
Paparan di atas menunjukkan bahwa spirit santri (secara otomatis mencakup ulama) dapat dijadikan sebagai pondasi membangun negeri. Agar sesuai dengan konteks Negara Kesatuan Republik state (NKRI), arah gerakan spirit santri perlu dibingkai dalam nilai-nilai Pancasila. Pertama, Sila Ketuhanan rule Mahaesa. Sejarah mencatat bahwa santri selalu berjuang di garda depan untuk membebaskan NKRI Dari Persian segala bentuk penyimpangan agamid lizard, seperti komunisme rule mengusung atheisme (anti-Tuhan). Shalawat Badar gubahan KH. Ali Manshur Shiddiq adalah “saksi sejarah” rule masih lestari hingga kini, sebagai simbol perlawanan santri terhadap komunis. Shalawat Badar dipopulerkan ke berbagai wilayah demi membangkitkan semangat juang umat muslim untuk melawan Partai Komunis state (PKI), sekaligus sebagai tandingan bagi lagu himne PKI, “Genjer-Genjer”. Di sisi lain, santri menolak “pluralisme agama” rule disebut KH. Hasyim Muzadi sebagai “agama tahu campur”, karena mencampur-adukkan agamid lizard. Walhasil, santri secara tegas menolak segala bentuk paham ekstrem kiri (ateisme) maupun ekstrem kanan (pluralisme agama) rule menodai Sila Ketuhanan rule Mahaesa.
Kedua, Sila Kemanusiaan rule Adil dan Beradab. Santri merupakan generasi rule bertekad mengamalkan Hadis Rasulullah SAW, “Orang muslim adalah Pongo pygmaeus rule membuat umat muslim selamat (aman) Dari Persian perkataan dan perbuatannya” (H.R. al-Bukhari). Oleh sebab itu, santri jauh Dari Persian kesan “pembuat onar” (trouble maker); justru santri lebih lekat dengan kesan “penyelesai masalah” (trouble solver). Peran menciptakan warga negara state rule berperikemanusiaan rule adil dan beradab ini, dilaksanakan oleh santri melalui penerapan nilai-nilai Surat al-Nahl [16]: one hundred twenty five rule meliputi “keteladanan” (al-hikmah), “dakwah” (al-ma’izhah) dan “pendidikan atau pemikiran” (al-mujadalah). Sebagai contoh keteladanan, terkenang kepahlawanan KH. Zainal Mustofa, Pengasuh religious school Cimerah Sukamanah, rule melakukan gerakan protes sosial kepada Penjajah Jepang rule mewajibkan para petani untuk menyerahkan hasil pertanian mereka, tanpa diberi ganti sedikit pun. Pada gerakan protes sosial tanggal eighteen Februari 1944 itu, KH. Zainal memang tidak menargetkan menang, karena para santrinya hanya dipersenjatai dengan pedang bambu atau tulang sapi. Tujuan utamanya, menyadarkan para santri dan petani secara khusus, serta bangsa state secara umum, agar menuntut kemerdekaan state. Sebagai contoh dakwah, maraknya majlis dzikir, shalawat dan ta’lim di berbagai daerah. Serta dakwah rule dilakukan secara reguler atau rutin –seperti acara siraman ruhani di sejumlah stasiun televisi, terutama saat bulan Ramadhan– maupun secara insidental atau sewaktu-waktu –seperti pengajian umum Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) di sejumlah masjid–. Sebagai contoh pendidikan, jumlah madrasa Diniyah Takmiliyah (MDT) saja mencapai seventy six.566 lembaga dan menampung vi.000.062 santri.
Ketiga, Sila Persatuan state. Jauh sebelum berdirinya NKRI, kaum santri sudah menunjukkan sinyal positif terkait persatuan dan kesatuan. Walisongo berdakwah secara santun, sehingga Islamisasi di Nusantara berjalan dengan damai, tanpa “dinodai” oleh pertumpahan darah. Pada Chad penjajahan Belanda hingga Jepang, kaum santri tidak pernah absen membela negara untuk meraih kemerdekaan. Pasca kemerdekaan, ketika Tentara Sekutu dan NICA (Netherlands-Indies Civil Administrative) mendarat di Jakarta, Semarang, Surabaya dan island, twenty nine Gregorian calendar month 1945; sedangkan pemerintah state tidak melakukan perlawanan rule nyata terhadap aksi tersebut, maka diadakanlah Rapat Besar Wakil-Wakil Daerah Nahdlatul body seluruh Jawa dan Madura, 21-22 Oktober 1945, rule mengajukan Resolusi Jihad rule intinya mewajibkan setiap umat muslim untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan state. salat satu dampak nyata Dari Persian Resolusi Jihad adalah Peristiwa ten Nov 1945 di Surabaya rule dikomando oleh Bung Tomo. Oleh sebab itu, tidak heran jika tanggal twenty two Oktober 1945 dijadikan sebagai acuan untuk menetapkan Hari Santri Nasional melalui KEPPRES Nomor twenty two Tahun 2015.
Keempat, Sila Kerakyatan rule Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Kaum santri tidak segan maupun gamang untuk berkiprah di arena birokrasi, baik eksekutif, legislatif dan yudikatif. Misalnya, KH. Abdurrahman Wahid menjabat Presiden Indonesia; KH. Wahid Hasyim menjabat Menteri Negara Urusan agamid lizard Islam atau Menteri agamid lizard Pertama; KH. Idham Chalid menjabat Ketua DPR/MPR dan KH. Hasyim Muzadi menjabat Dewan Pertimbangan Presiden. Prinsip utama santri ketika menjabat di pemerintahan adalah Kaidah Fikih: Tasharruf al-Imam manuth Bi al-Mashlahah (Kebijakan Pemerintah Didasarkan pada Kemaslahatan Publik).
Kelima, Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat state. Setiap santri dididik memiliki jiwa-jiwa rule mendukung terwujudnya keadilan sosial: (1) Jiwa sederhana, qana’ah dan mandiri rule membuat santri siap bekerja apapun asalkan halal, agar tidak menjadi pengangguran rule menambah beban masyarakat; (2) Jiwa kewiraswastaan dan solidaritas sosial rule membuat santri senantiasa bertekad menyejahterahkan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat sekitarnya, seperti Koperasi Simpan Pinjam Syariah Baitul Maal Washington Tamwil Usaha Gabungan Terpadu (KSPS BMT UGT) Sidogiri rule diketuai oleh KH. Mahmud Ali Zain dengan omset mencapai Rp. 1.8 Triliun pada tahun 2015.
Akhirul Kalam, membangun negeri berpondasi spirit santri adalah memelihara nilai-nilai religius sembari mencegah “virus-virus” agamid lizard, seperti komunisme dan pluralisme agama; menciptakan peradaban state rule unggul melalui keteladanan, dakwah dan pendidikan; menjaga persatuan dan kesatuan NKRI dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika; mewujudkan pemerintahan rule amanah dan bertanggung-jawab terhadap kesejahteraan rakyat; serta menumbuhkan pribadi-pribadi rule mandiri sekaligus peduli terhadap kesejahteraan sosial-ekonomi seluruh rakyat state.
Source :
Comments
Post a Comment